![]() |
| al-Faqir Abu Ukasyah Iing Solihin, M.Pd |
Karawang.Dianpos.Online.| 08 - Juni - 2026, Peristiwa tertangkapnya seorang pejabat tinggi di lingkungan BGN karena dugaan tindak pidana korupsi atau penyalahgunaan jabatan merupakan sebuah kejadian yang sangat memprihatinkan. Kejadian ini bukan hanya mencoreng nama baik institusi yang dipimpinnya, tetapi juga melukai kepercayaan masyarakat yang selama ini menaruh harapan besar kepada para pemegang amanah negara.
Jabatan dalam Islam bukanlah sarana untuk memperkaya diri, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Ketika seorang pejabat menyalahgunakan kewenangannya, sesungguhnya ia telah mengkhianati amanah rakyat dan amanah Allah. Dampak dari pengkhianatan tersebut tidak hanya dirasakan secara pribadi, tetapi juga merugikan masyarakat luas yang menjadi penerima manfaat dari kebijakan dan program negara.
Dalam sebuah Riwayat dari Austh bin Ismail bin Aisth ia berkata : "Aku mendengar Abu Bakr al-Siddiq radhiyallahu 'anhu berkata setahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ: 'Rasulullah ﷺ pernah berdiri di hadapan kami pada tahun pertama di tempatku berdiri ini.'
Kemudian Abu Bakar menangis dan seraya berkata : setahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ:
'Rasulullah ﷺ pernah berdiri di hadapan kami pada tahun pertama di tempatku berdiri ini.'
Dan beliau Rasullullah Saw, bersabda :
«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ؛ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ ، وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ ، وَهُمَا فِي النَّارِ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْمُعَافَاةَ ، فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ شَيْئًا بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْمُعَافَاةِ ، وَلَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا» (اليقين للابن أبي الدنيا , ص :29)
"Hendaklah kalian berpegang teguh pada kejujuran, karena kejujuran itu bersama kebajikan, dan keduanya berada di surga.
Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu bersama kefasikan, dan keduanya berada di neraka.
Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan, perlindungan, dan kesejahteraan), karena tidaklah seseorang diberikan sesuatu setelah keyakinan (iman) yang lebih baik daripada afiat.
Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling dengki, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (kitab Al-Yaqin Libi Abi Dunya, hal.29)
Kandungan Hadist
Hadis ini memuat lima pesan penting:
1. Kejujuran (ash-shidq) adalah jalan menuju segala kebaikan dan surga.
2. Dusta (al-kadzib) adalah pintu menuju kefasikan dan neraka.
3. Meminta afiat kepada Allah merupakan salah satu doa terbaik setelah dianugerahi iman yang yakin.
4. Menjaga persatuan umat, tidak saling memutus silaturahim dan tidak saling membelakangi.
5. Menjauhi hasad (iri dengki) dan membangun ukhuwah Islamiyah.
Dalam konteks ini, sabda Rasulullah ﷺ yang disampaikan kembali oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menjadi sangat relevan. Beliau berkata:
"Hendaklah kalian berpegang teguh pada kejujuran, karena kejujuran itu bersama kebajikan, dan keduanya berada di surga. Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta itu bersama kefasikan, dan keduanya berada di neraka."
Hadis ini menegaskan bahwa kejujuran (ash-shidq) bukan sekadar sikap moral, melainkan fondasi utama kehidupan pribadi, sosial, dan pemerintahan. Seorang pejabat yang jujur akan melahirkan kebijakan yang adil, pelayanan yang bersih, dan pemerintahan yang dipercaya masyarakat. Sebaliknya, ketika kebohongan, manipulasi data, penyalahgunaan anggaran, atau praktik korupsi terjadi, maka itulah bentuk nyata dari "al-kadzib" (dusta) yang mengantarkan pelakunya kepada kefasikan sebagaimana peringatan Rasulullah ﷺ.
Kasus-kasus yang melibatkan pejabat publik sering kali berawal dari hilangnya kejujuran. Ketika laporan dibuat tidak sesuai kenyataan, ketika anggaran dimanipulasi, ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat, maka sesungguhnya rantai kebohongan sedang dibangun. Dari satu kebohongan lahirlah kebohongan berikutnya hingga akhirnya terbongkar dan menyeret pelakunya kepada kehinaan di dunia sebelum mempertanggungjawabkannya di akhirat.
Lebih jauh, hadis tersebut juga mengajarkan pentingnya memohon "al-'afiyah" (keselamatan dan perlindungan) kepada Allah SWT. Seorang pejabat membutuhkan afiat bukan hanya dalam kesehatan fisik, tetapi juga afiat dalam akhlak, integritas, dan keteguhan hati agar tidak tergoda oleh kekuasaan, harta, maupun berbagai bentuk penyimpangan. Banyak orang yang memiliki kecerdasan, jabatan, dan kekuasaan, tetapi gagal menjaga amanah karena kehilangan afiat dalam hati dan moralitasnya.
Peristiwa ini hendaknya menjadi pelajaran bagi seluruh pemimpin dan aparatur negara. Penegakan hukum memang penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun budaya kejujuran dan pengawasan yang kuat agar penyimpangan tidak terjadi. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan pemimpin yang jujur, amanah, dan takut kepada Allah SWT.
Akhirnya, hadis Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut mengingatkan kita bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas moral para pemimpinnya. Jika kejujuran ditegakkan, maka keberkahan akan hadir. Namun jika kebohongan dan pengkhianatan amanah dibiarkan tumbuh, maka kerusakan akan meluas dan kepercayaan masyarakat akan semakin terkikis.
Semoga peristiwa ini menjadi ibrah (pelajaran) bagi seluruh pemegang amanah, agar senantiasa menjadikan kejujuran sebagai prinsip hidup dan kepemimpinan, sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ: "Berpegang teguhlah kepada kejujuran, karena kejujuran itu bersama kebajikan, dan keduanya berada di surga."
Oleh : al-Faqir Abu Ukasyah Iing Solihin, M.Pd
